Ekologi Laut Tropis

Energi

Energi merupakan kemampuan untuk melakukan kerja. Energi merupakan sesuatu yang bersifat abstrak yang sukar dibuktikan namun dapat dirasakan.

Hukum termodinamika I : Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan tetapi dapat di ubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya (jumlah energi konstan).

Hukum termodinamika II : Setiap terjadi perubahan bentuk energy terjadi degradasi energy dari bentuk energy yang terpusat menjadi bentuk energy yang terpencar, energi tidak pernah tercapai efisiensi 100%. Dalam proses perubahan satu bentuk energi menjadi bentuk energi yang lain selalu menghasilkan sisa yang disebut dengan entropi.

Habitat

Semua makhluk hidup memerlukan tempat tinggal untuk hidup. Tempat dimana spesies tinggal dan berkembang biak dinamakan habitat. Habitat berasal dari bahasa latin yang berarti tempat tinggal. Bila pada suatu tempat yang sama hidup berbagai kelompok spesies (mereka berbagi habitat yang sama) maka habitat tersebut disebut sebagai biotop.

Relung (nische)

Relung tidak hanya meliputi tempat atau ruang (habitat) namun dalam komunitas dan posisinya pada lingkungan temperature, kelembapan, pH, tanah dan posisinya. Menurut Charles Elton (1927) menyatakan bahwa relung merupakan fungsi atau peranan spesies di dalam komunitasnya. Maksud dari fungsi dan peranan ini adalah kedudukan suatu spesies dalam komunitas dalam kaitannya dengan peristiwa makan memakan dan pola-pola interaksi yang lain.

Adaptasi

Adaptasi adalah cara makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang berubah. Kemampuan adaptasi mempunyai nilai. ada beranekaragam adaptasi antara lain, adaptasi morfologi (meliputi bentu tubuh), adaptasi fisiologis (fungsi alat-alat tubuh), dan adaptasi tingkah laku.

*Untuk materi selanjutnya (Evolusi,suksesi dan faktor pembatas) dapat dilihat di http://rennyaputri.blogspot.com/2011/04/ekologi-laut-tropis.html

Satelit Altimetri dalam Bidang Kelautan

Indonesia sebagai Negara maritim, sangat membutuhkan informasi mengenai dinamika laut dalam menunjang studi ilmiah maupun aplikasi praktis yang berhubungan dengan kelautan. Satelit Altimetri merupakan salah satu teknologi penginderaan jauh dalam pemantauan fenomena dan dinamika lautan secara global dan telah banyak aplikasi satelit altimetri dalam penelitian dinamika lautan seperti, arus, mean sea level, sea level change, eddies, El-Nino, dan kajian lainnya yang dapat mengembangkan kajian keilmuan dalam bidang kelautan.

Satelit altimetri yang diluncurkan memiliki karakteristik yang berbeda-beda dimana untuk mendapatkan ketelitian dalam hal spasial yang baik maka akan mengesampingkan resolusi temporal dan sebaliknya. Topex/Poseidon dan Jason-1 merupakan satelit dengan resolusi temporal yang baik dengan ground track sejauh 315 km sedangkan Envisat merupakan satelit dengan resolusi spasial yang baik dengan ground track sejauh 80 km. Sehingga perlu dilakukan interpolasi untuk mendapatkan nilai tinggi muka air laut sesaat pada lokasi antara lintasan orbit yang bersebelahan pada pengolahan data single satelit. Namun dengan menggunakan data dari beberapa satelit yang memiliki karakteristik berbeda diharapkan dapat meningkatkan resolusi spasial data pengukuran.

Prinsip dasar satelit altimetri

Konsep dasar dari satelit altimetri adalah mengukur jarak dari satelit terhadap permukaan air lautdengan memanfaatkan interval waktu perambatan gelombang radar yang dipancarkan satelit, kemudian dipantulkan oleh permukaan air dan diterima kembali oleh satelit (NASA/CNES, 1992). Dengan diketahui tinggi satelit terhadap elipsoid referensi maka dapat dihitung tinggi permukaan air laut terhadap elipsoid referensi. Dikarenakan muka air laut yang selalu dinamis, pengukuran tidak sebatas pada satu titik namun didapat dari hasil rerata nilai dari area footprint sinyal. Dengan asumsi refraksi pada kecepatan cahaya diabaikan, maka persamaan berikut menggambarkan jarak yang ditempuh sinyal satelit (Chelton et al, 2001).



d = C (Δt/2) – Wtrop – Dtrop – hiono – hem

d    : jarak yang ditempuh sinyal antara satelit menuju permukaan air laut

C     : cepat rambat gelombang elektromagnetik

Δt   : waktu yang dibutuhkan gelombang untuk perjalanan satelit permukaan air laut-satelit

Wtrop : bias troposfer elemen basah

Dtrop : bias troposfer elemen kering

hiono :bias ionosfer

hem : bias elektromagnetik


Gambar (1) menjelaskan mengenai geometri posisi satelit terhadap geoid dan elipsoid. Posisisatelit direferensikan terhadap elipsoid berdasarkan pengamatan GPS. Jika H adalah tinggi satelitdengan referensi elipsoid dan d merupakan jarak antara permukaan laut dengan satelit, maka h merupakan jarak antara permukaan laut dengan elipsoid atau secara konsep disebut Sea Surface Height (SSH).

h = H-1

Tinggi muka air laut dipengaruhi secara langsung oleh ketelitian dari penentuan undulasi geoid terhadap bidang elipsoid Hg, variasi tinggi pasang surut ht, pengaruh tekanan atmosfer terhadap permukaan laut ha. Hubungan pengaruh tersebut pada tinggi muka air laut dinamik  dapat dijelaskan pada persamaan berikut.

hd = H – d – hg – hT – ha

Efek Geophysical Surface merupakan pengaruh undulasi geoid terhadap elipsoid sehingga digunakan untuk mendapatkan SSH di atas geoid. Efek pasut dan tekanan udara adalah faktor yang mempengaruhi ketinggian muka air laut di suatu wilayah. Efek pasut terdiri dari Solid Earth Tide, Earth Ocean Tide, dan Pole Tide. Sedangkan faktor tekanan udara mengindikasikan bahwa setiap kenaikan tekanan 1  mbar pada atmosfer akan mengakibatkan turunnya ketinggian muka air laut sebesar 1 cm.

Satelit TOPEX/Poseidon dan Jason-1

Satelit TOPEX/Poseidon yang diluncurkan pada Agustus 1992 merupakan hasil kerjasama antara badan antariksa Amerika NASA (National Aeronatics and Space Administration) dengan badan antariksa Prancis CNES (Centre National d’Etudes Spatiales). Tujuan utama dari misi TOPEX/Poseidon adalah (Benada, 1997) :

Mengukur tinggi muka air laut untuk tujuan studi dinamika laut yang mencakup hitungan rerata maupun variasi arus permukaan dan pasang surut lautan secara global

Memproses, memverifikasi, dan mendistribusikan data TOPEX/Poseidon beserta data geofisika lainnya kepada pengguna

Meletakkan pondasi bagi keberlanjutan program pengamatan sirkulasi laut dan variasinya dalam jangka waktu yang panjang.

Karakteristik dari satelit TOPEX/Poseidon digambarkan dalam Tabel (4) berikut.

Tabel 1. Karakteristik dari satelit TOPEX/Poseidon

Karakteristik Utama
Setengah sumbu panjang 7714.4278 km
Eksentrisitas 0.000095
Inklinasi bidang orbit 66.04o
Argumen of perigee 90o
Asensiorekta ascending 116.56o
Anomali rerata 253.13o
Data Tambahan
Tinggi referensi (ekuatorial) 1336 km
Periode satu lintasan orbit 6745.72 detik
Resolusi temporal (cycle) 9.9156 hari
Jumlah revolusi dalam satu cycle 127
Jarak antar lintasan pada ekuator 315 km
Sudut lintasan terhadap ekuator 39.5o
Kecepatan orbit 7.2 km/detik
Kecepatan permukaan (ground track speed) 5.8 km/detik

Satelit TOPEX/Poseidon memberikan data terakhirnya pada 4 Oktober 2005 pada cycle ke-481. Misi TOPEX/Poseidon berakhir secara resmi pada tanggal 18 Januari 2006 untuk kemudian dilanjutkan oleh satelit Jason-1. Satelit Jason-1 yang diluncurkan pada 7 Desember 2001 merupakan hasil kerjasama antara NASA dengan CNES. Satelit Jason-1 adalah misi lanjutan dari TOPEX/Poseidon dan mempunyai karakteristik serta tujuan yang sama dengan pendahulunya yaitu untuk mengamati tinggi muka air laut secara global.

Berikut adalah aplikasi dari satelit Jason-1 :

Oseanografi. Mengamati variasi lautan global merupakan misi utama dari Jason-1. Orbit dari Jason-1, yang identik dengan TOPEX/Poseidon, dapat mencakup 90% dari seluruh lautan di dunia setiap 9.9156 hari.

Klimatologi dan prediksi iklim. Data altimetrik sangat dibutuhkan dalam mempelajari dan memprediksi iklim, pada fenomena-fenomena seperti  El Nino.

Satelit Envisat

Satelit Envisat diluncurkan pada Maret 2002 oleh European Space Agency dengan tujuan utama menyediakan data pengamatan dari atmosfer, lautan global, dan es. Envisat mempunyai karakteristik orbit sun synchronous dengan parameter sebagai berikut :

Tabel 2. Karakteristik dari satelit Envisat

Karakteristik Utama
Setengah sumbu panjang 7159.5 km
Inklinasi bidang orbit 98.55o
Tinggi referensi rerata (ekuatorial) 799.8 km
Periode satu lintasan orbit 6035.4 detik
Resolusi temporal (cycle) 35 hari
Kecepatan orbit 7.45 km/detik

Sumber

http://www.ilmukelautan.com/sig-dan-penginderaan-jauh/penginderaan-jauh-kelautan?start=1

oc.its.ac.id/ambilfile.php?idp=388

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!